19
Agu
13

Api Takfiriah yang Menjilat Diri Sendiri

(Otong Sulaeman, Mhsw S3 Filologi Unpad)

Istilah takfiriah, akhir-akhir semakin sering terdengar. Prahara di Suriah dan juga kisruh politik di Mesir melibatkan sejumlah aktor. Kelompok takfiriah disebut-sebut sebagai salah satu aktor utama. Bahkan ada sejumlah kalangan yang menengarai adanya infiltrasi ideologi kelompok ini ke dalam gerakan-gerakan Islam di Indonesia.

takfir
Takfiriah adalah sebuah gerakan yang bercirikan sangat mudahnya menjatuhkan vonis kafir kepada kelompok lain. Gerakan ini sebenarnya berakar jauh sejak masa kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib. Saat itu, muncul sebuah kelompok bernama Khawarij. Secara politis, mereka berposisi sebagai blok ketiga yang mereaksi dua kubu yang berseteru, yaitu kubu Ali bin Abi Thalib sebagai pemerintah yang berkuasa dan kubu Muawiyah yang mengobarkan perlawanan oposisional. Dalam pandangan politik Khawarij, Ali dan Muawiyah sama-sama keliru dan tidak punya legitimasi otoritatif untuk berkuasa atas ummat Islam. Kalau kita kaji secara kultural, sejarah mencatat bahwa fenomena “Khawarij-isme” adalah transformasi dari nilai-nilai hidup suku-suku nomaden Arab Badwi, dengan segala macam cirinya yaitu passionate, keras, tak kenal kompromi, simplistis, mandiri, dan ekslusif.

Untuk menegaskan identitas kelompoknya, Khawarij juga membuat sejumlah rumusan teologis. Ada tiga pilar penting dalam formula teologis Khawarij yang membuat kelompok ini terlihat unik dibandingkan dengan aliran-aliran teologis lainnya. Pertama, parameter keimanan yang sangat elitis. Bagi mereka, keimanan bukan hanya sebatas konfirmasi-verbal (tashdiq), melainkan juga harus dalam bentuk amal perbuatan. Seseorang baru disebut beriman jika ia sudah mengimplementasikan keimanannya itu dalam bentuk amal-amal ibadah secara komprehensif. Dari sisi ini, pengucapan dua kalimah syahadat bukan penanda keberimanan seseorang. Di sisi lain, seorang Muslim akan berubah status menjadi kafir ketika ia secara sengaja melanggar salah satu perintah Allah. Orang Islam yang tidak melaksakan shalat dihukumi kafir, bahkan murtad.

Kedua, penafsiran formalistik-tunggal atas segala macam teks agama. Dalam pandangan Khawarij, teks-teks agama harus difahami secara harafiah. Tidak ada ruang bagi siapapun untuk menafsirkan maksud lain dari redaksi ayat-ayat Alquran dan Alhadis. Salah satu konsekwensi logis dari prinsip ini adalah paham anthromorphisme, sebuah keyakinan bahwa Tuhan itu Zat yang bermateri (tajassum). Keyakinan ini muncul karena, misalnya, redaksi Alquran atau hadis menyatakan adanya ‘tangan Tuhan’. Prinsip ini membuat Islam menjadi agama yang sangat kaku karena diikat oleh penafsiran tunggal, yaitu penafsiran harafiah.

Kombinasi dari kedua prinsip di atas melahirkan prinsip unik ketiga kelompok Khawarij, yaitu takfiriah. Istilah ini merujuk kepada perilaku sangat mudahnya menjatuhkan vonis kafir dan sesat kepada siapapun yang berada di luar kelompok mereka. Prinsip “amal-ibadah sebagai parameter keimanan” membuat keimanan menjadi sangat elitis. Hanya orang-orang yang telah mengimplementasikan keimanan itu dalam bentuk beramal ibadah secara komprehensif yang layak menyandang predikat Mukmin. Sebaliknya, kekufuran adalah hal yang sangat lumrah. Dalam kelompok ini, memberi stigma “kafir” kepada orang lain menjadi common behaviour.

Di sisi lain, prinsip penafsiran agama secara formalistik dan tunggal membuat amal ibadah yang menjadi parameter keimanan itu menjadi sangat sempit dan terbatas. Meskipun Anda orang yang sangat taat beribadah, akan tetapi jika amal ibadah Anda terindikasi berbeda dengan apa yang dipahami oleh kelompok Khawarij, Anda tetap saja akan dihukumi kafir.

Apakah Khawarij hanyalah fenomena sejarah yang sudah menjadi fosil? Banyak kalangan yang menengarai sekaligus mengkhawatirkan bahwa kelompok ini tidak mati, melainkan bertransformasi menggunakan nama dan baju yang berbeda. Namun, prinsip-prinsip uniknya tetap sama dengan leluhur-ideologisnya: parameter keimanan yang elitis dan penafsiran formal-tunggal atas teks-teks agama.

Takfiriah bagaikan api yang bisa menjilat siapa saja, bahkan termasuk si pelaku (orang yang mengkafirkan pihak lain) sendiri. Kasus keluarnya fatwa pengkafiran terhadap orang yang memiliki keyakinan heliosentris (bahwa bumi mengelilingi matahari) oleh para ulama Wahabi adalah contohnya. Berdasarkan penafsiran yang formalistik-tunggal terhadap sejumlah ayat Alquran dan Alhadis, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Muqbil dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh, dalam kesempatan yang berbeda-beda, menyampaikan fatwa bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi. Siapa saja yang meyakini sebaliknya (bumi yang mengelilingi matahari), jatuhlah hukum kafir kepada orang tersebut.

Dengan penetapan syarat yang luar biasa ketat atas status keimanan tersebut, takfiriah betul-betul mempreteli status keimanan dari siapa saja, termasuk dari diri mereka sendiri. Bisa dibayangkan, ilmuwan atau akademisi dari kalangan Wahabi pun bisa disebut kafir kalau mereka mempertahankan keyakinan imiah bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Inilah agaknya maksud dari hadis yang disampaikan oleh Rasulullah SAW terkait kehati-hatian dalam memberi stigma kafir kepada orang lain. “Laa yarmii rajulun rajulan bil fusuq wa laa yarmiihi bil kufr illa irtaddat ‘alaihi in lam yakun shaahibuhu kadzaalik”. Jika seseorang menjatuhkan vonis fasik atau kafir kepada orang lain, vonis itu akan berbalik kepada si penuduh, manakala ternyata tuduhan itu keliru.

Sangat disayangkan bahwa fenomena takfiriah dengan segala absurditasnya ini semakin marak di tanah air kita. Dalam beberapa dekade terakhir ini, ghirrah kebangkitan Islam yang melanda masyarakat Indonesia berimpitan dengan masuknya prinsip-prinsip teologis Khawarij. Passionate yang bergelora adalah sebuah kemestian bagi kebangkitan Islam. Akan tetapi, jika hal itu dibarengi dengan takfiriah, kebangkitan yang dicita-citakan dipastikan hanya akan menjadi mimpi. Peradaban Islam tak mungkin dibangun dengan watak pengkafiran yang membabi-buta, yang apinya bisa menjilat diri sendiri.

(Dimuat di IRIB Indonesia)

21
Mei
10

Mimpi-mimpi yang Terpancang Tinggi di Langit Persia

Dari Jendela Hauzah
Penerbit : Mizania
Pengarang : Otong Sulaeman
Halaman : 460 hal
ISBN : 978-602-8236-64-5

-sebuah resensi-
oleh: Ismail Amin*

“Tujukanlah mimpimu tepat pada bintang, kalaupun salah sasaran, mimpimu tetap bergantung tinggi di langit” (Soekarno, Presiden RI pertama)

Abdul Hadi WM dalam catatannya, Jagat dan Estetika Sastra Sufi Nusantara (2007) mengutip Braginsky, mengklasifikasikan karya-karya Melayu klasik ke dalam tiga kategori berdasar teori perenial.

Pertama, karya-karya yang memaparkan sfera kamal atau penyempurnaan batin, misalnya sastra sufi. Kedua, karya-karya yang memaparkan sfera faedah, semisal karya-karya yang menebar manfaat dan mengajarkan adab kepada masyarakat. Ketiga, karya-karya yang memaparkan sfera keindahan atau kenikmatan lahir. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kisah-kisah pelipur lara.

Klasifikasi Braginsky ini berdasar pada nilai estetika dan teori seni yang berbeda demi memenuhi fungsi yang berbeda pula, sehingga terkadang berdiri sendiri-sendiri. Namun, ketika membaca novel “Dari Jendela Hauzah” besutan Otong Sulaeman, tiga bentuk sastra dengan hakikat dan fungsi yang berbeda-beda itu, tidak berdiri sendiri.

Dari jalinan cerita yang dibuatnya, ketiga bentuk sasta itu saling berkelindan dan melengkapi. Dengan pilihan-pilihan kata yang tepat, Otong memaparkan sfera kamal untuk menggambarkan perjalanan spritualnya layaknya seorang sufi. Pada bagian sfera faedah, ia mengajarkan adab dan nilai-nilai luhur dengan memaparkan sfera keindahan, yakni kisah-kisah pelipur lara dari para tokohnya.

Dengan setting negara para Mullah, Iran, Otong Sulaeman secara apik menceritakan kisah perjalanan spiritual masing-masing tokohnya, yang diselingi romansa cinta yang berbeda-beda.

Dengan suksesnya Habiburrahman El Shirazy, menulis karya-karya berlatar santri, diantaranya Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih (1 dan 2), maka belantika sastra nusantara pun diramaikan dengan karya-karya berlatar serupa. Sedikit banyaknya, kehadiran novel inipun bisa jadi mendapat pengaruh dari kesuksesan tersebut.

Tampaknya, bukanlah sebuah aib dan kesalahan jika harus menulis sebuah tema yang sama dan telah berulang-ulang. Di antara salah satu kisah yang tersaji dalam buku Chicken Soup for The Writer’s Soul. Buku yang disusun Jack Canfield, Mark V Hansen, dan Bud Gardner, ada seorang profesor berkata kepada seorang penulis partikelir: “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik dari pada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, dan petualangan… lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan jadi penulis. Pelajarilah akuntansi!”

Atas komentar seperti ini, sastrawan kelahiran Chicago, Irving Wallace (1916-1990), gusar dan membentak: “Kata-kata ini konyol, benar-benar bodoh. Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama. Bukankah tak pernah ada yang melihat cinta atau merasakan benci persis seperti kau melihatnya?.”

Mungkin dengan semangat, “Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama?” inilah, Otong Sulaeman berani menuntaskan novel yang memuat 460 halaman ini, meskipun berada dalam bayang-bayang kesuksesan karya-karya Habiburrahman El Shirazy yang menjadi Mega Best Seller dan memberi pengaruh besar pada perkembangan gentre sastra selanjutnya di nusantara.

Otong Sulaeman membuktikan dirinya sebagai pribadi yang berbeda, yang memiliki emosi dan apresiasi mengenai percintaan yang tidak sama dengan Habiburrahman. Kekuatan novelnya adalah kemampuannya meramu drama percintaan beberapa tokohnya dengan pergulatan pribadi masing-masing mereka dalam perjalanannya menemukan identitas diri.

Dalam novel ini, kita menemukan kisah Asep, yang dilanda dilema ketika harus memilih untuk tetap membulatkan tekadnya melakukan pengembaraan spiritual ke negeri Iran, dan meninggalkan calon istri yang sangat dicintainya serta janji pekerjaan mapan dari calon mertuanya.

Tidak mudah untuk tetap bersikukuh memegang kuat idealisme. Namun bagi Asep menuntut ilmu, terlebih lagi ilmu-ilmu agama adalah segalanya, meskipun harus menanggung perihnya luka dan buncahan kerinduan di setiap perjalanannya. Dengan bahasa sendu, penulis menggambarkan suasana hati Asep, “Hingga kini, aku merasa ada bagian dari diriku yang tertinggal di Indonesia.” (hal. 8).

Lebih rumit dari itu, ada tokoh Daniel Nikbakht seorang Yahudi Iran yang jatuh cinta pada Wafa, seorang muslimah berjilbab berkebangsaan Lebanon dan berasal dari keluarga yang taat beragama. Sejak mengenalnya, Daniel yang sebelumnya sangat acuh terhadap agama dan hal-hal yang bersifat religius menjadi tertarik untuk mendalami Islam lebih jauh. Namun, ketika ia telah menetapkan diri untuk berpindah agama dan memeluk Islam untuk kemudian melamar wafa, kejadian serba tiba-tiba merusak segala rencana dan impiannya.

Kekerasan dan teror atas nama agama terjadi di depan matanya, kedua orang tuanya tewas dalam peristiwa itu dan ia dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan yang tidak pernah ia mengerti. Sejak itu, agama dan Tuhan menjadi bahan olok-olokan dan hujatannya. Ia bahkan berada diambang keputusasaan dan depresi berat, sampai berniat ingin mengakhiri hidupnya.

Sahabat Daniel, Dewa Darmawangsa, memiliki kisah percintaan yang tidak kalah peliknya. Ia seorang muslim berkebangsaan Indonesia di negara yang mayoritas penduduknya muslim, namun sama sekali tidak mengenal hal-hal penting dalam agamanya, bahkan memandang Islam dengan paradigma terbalik. Bagi Dewa semakin berislam seseorang, maka ia semakin berbahaya bagi kemanusiaan.
Di manta Dewa, perjuangan rakyat Palestina untuk melepaskan diri dari cengkeraman kesewenang-wenangan Israel adalah tindakan teror dan pembangkangan yang layak mendapatkan muntahan rudal dan serang artileri sebagai balasannya. Namun keterlibatannya dengan kasus sahabat setianya, Daniel, membuat ia harus ke Iran dan mengalami hal-hal yang mengejutkan dan menggugah imannya di negeri itu.

Banyak hal-hal berbau spiritual yang ditemukan Dewa di Iran. Tanpa disadarinya, ia bisa melupakan Sinta, mantan pacarnya, seorang foto model seksi, yang memutuskannya begitu saja. Ia mulai tertarik dengan Narges, seorang muslimah Iran, anak dari Syeikh Abdullah seorang tenaga pengajar di Hauzah.

Dalam novel ini kita juga disuguhi tragedi cinta dan perjalanan spiritual yang lebih memilukan. Muhammad Syafiq seorang berkebangsaan Afrika Selatan, sahabat dekat tokoh utama, Asep Muhammad. Di antara keluarganya, ia satu-satunya seorang muslim, anggota keluarga lainnya menganut Kristen Abangan.

Sebelum masuk Islam nama sebelumnya Marteen. Ia menikah dengan Layla, seorang muslimah berkulit hitam, dari istrinya ia mendapatkan dua anak, Ali Abbas dan Fatimah. Kepergiannya menunaikan ibadah haji ketika anak bungsunya Fatimah berusia 6 bulan, mengubah jalan hidupnya kemudian.

Di Mekah, Syafiq bertemu dengan jamaah haji dari Iran. Ia kemudian tertarik untuk lebih mendalami ilmu keagamaannya di kota sejuta mullah di Qom, Iran. Atas rekomendasi seorang ulama Iran, ia pun akhirnya termasuk di antara talabeh (pelajar) asing yang mengenyam ilmu-ilmu agama di Hauzah Qom Iran.

Kepergiannya ke Mekah benar-benar mengubah jalan hidup Syafiq. Ia bertemu jamaah haji Iran, dan merasa menemukan aktualisasi Islam sejati. Secara antusias, Syafiq mengisi hari-hari di Mekah dengan diskusi dan saling bertukar pikiran dengan mereka, membicarakan tentang nasib dan masa depan umat Islam. Bahkan bersama orang Iran tersebut, beserta jamaah dari Irak dan Lebanon, ia turut serta dalam demonstrasi. Syafiq bahagia atas pengalaman spritualnya itu, namun dari situ pula petaka hidupnya bermula.

Kesalahan fatal yang dilakukan Syafiq sewaktu menjalankan ritualitas Haji, harus dibayar mahal dengan ketidakharmonisan keluarganya. Sepulang dari Mekah, hari-harinya diisi dengan kepiluan, nestapa dan rasa bersalah yang sangat besar terhadap istrinya. Sampai akhirnya istri yang sangat dicintainya memilih laki-laki lain untuk menggantikan posisinya sebagai suami. Ia ikhlas dan ridha atas semua itu, karena dibalik luka percintaan itu ada semangat besar untuk tetap berpegang pada aturan fiqh yang diyakininya. Ia mencintai istri dan keluarganya, lebih dari itu, cintanya lebih terpaut kepada Allah, lebih dari segalanya.

Kesetiaan, pengorbanaan dan kecintaan tanpa pamrih tergambar dari ketokohan Mohsen, seorang petugas kepolisian Iran yang mendapat tugas untuk menangani kasus spionase keluarga Daniel. Meskipun tahu, Maryam calon istrinya terkena penyakit berbahaya akibat efek bom kimia semasa perang Irak-Iran, ia tetap nekad menyuntingnya.

Alasan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak wajar -lewat ketokohan Mohsen- digambarkan penulis dalam kata-kata, “Saya sangat percaya adanya kehidupan yang abadi dan hakiki setelah kehidupan di dunia ini. Penderitaan sangat berat selama bertahun-tahun yang ditanggung Maryam akan dibalas oleh Allah dengan derajat yang mulia di alam akhirat nanti. Saya tidak tahu nasib saya di akhirat nanti. Tapi dengan mempersunting dan mendampingi Maryam sampai detik-detik terakhir kehidupannya, saya berharap ini akan menjadi kebaikan sendiri dalam pandangan Allah.”(hal. 384).

Cinta dan kesetiaan Mohsen tidak berakhir dengan meninggalnya Maryam, ia tetap menziarahi makam istrinya sebagai rutinitas setiap akhir pekan. Mohsen menceritakan kepiluannya ditinggal sang kekasih kepada Dewa. Bagi Mohsen, Maryam selalu hadir dalam mimpi-mimpinya, meskipun berada dalam dua dunia yang berbeda. (hal. 385).

Pelajaran Teologi, Sejarah dan Budaya Iran

Lebih dari sebuah novel, karya Otong Sulaeman ini juga bisa dikategorikan sebagai diktat kuliah atau buku ajar. Penulis meramu kisah percintaan dan konflik-konflik batin para tokohnya dengan selingan informasi dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Lewat materi-materi kuliah yang disampaikan Syaikh Abdullah, Sayid Nabawi dan Syaikh Bahjat, seakan-akan kita berada dalam ruang kuliah bersama para talabeh (pelajar) hauzah dan mendapat sajian kuliah aqidah, akhlak dan Irfan.

Kita kembali dipertemukan dengan istilah-istilah teologi dalam pembahasan ma’rifatullah yang telah lama disingkirkan dalam pelajaran-pelajaran agama di mayoritas lembaga pendidikan keagamaan kita, semisal wajibul wujud, ‘illiyah, sifat fi’li, sifat dzati, pengenalan Allah lewat fitrah dan argumentasi logis dan sebagainya. Kitapun mendapat pencerahan filosofis mengenai eksistensi Allah, sifat-sifatnya dan ke Maha Kuasaan-Nya.

Seakan tidak ingin ada selembarpun yang tertulis sia-sia, kitapun disuguhi informasi banyak hal tentang Iran. Tradisi masyarakatnya, dari do’a Nudbah, ziarah ke makam-makam suci sampai keadaan pasar, kesemrawutan lalu lintasnya, kerumitan birokrasinya dan pelosok-pelosok perumahannya.

Lewat percakapan dan penggalan-penggalan fragmen para tokohnya, kita diperkenalkan dengan ungkapan-ungkapan sehari-hari masyarakat Iran yang berbahasa Persia, seperti mamnun (terimakasih), bebakshid (maaf), khudo hofez (sampai jumpa), bale (iya), bobo (ayah) dan lain-lain.

Begitu juga menu makanan masyarakat Iran yang diekspresikan penulis, rasanya sangat tidak cocok dengan lidah orang Indonesia. Sampai diceritakan memasak menu masakan sendiri menjadi rutinitas tersendiri pelajar-pelajar Indonesia yang berada di Qom Iran.

Lebih dari itu, penggambaran mendetail tentang tempat-tempat yang penting di dua kota di Iran, Qom dan Teheran dengan bubuhan informasi yang tidak kalah pentingnya. Termasuk Madrasah Hujjatiyah di jantung kota Qom, yang telah melahirkan banyak ulama-ulama besar dan berpengaruh di dunia Islam, di antaranya Ayatullah Khamanei, pemimpin besar revolusi Islam Iran saat ini dan Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin gerakan Hizbullah Lebanon.

Buku ini, tidak hanya membicarakan bentuk arsitektur, letak dan jumlah bangunannya, namun juga sejarah berdiri dan pendirinya. Penulis yang pernah merasakan langsung aroma kehidupan dan hiruk pikuk di kota Qom selama kurang lebih tujuh tahun, bahkan menghirup sendiri secara langsung hawa pendidikan dan aktivitas intelektual di Madrasah Hujjatiyah menjadikan informasi yang beliau suguhan benar-benar otentik dan layak dipercaya.

Mimpi-mimpi yang Tak Sampai

Menariknya, penulis terkesan sengaja menahan diri untuk menunda cerita mengenai Haram Sayyidah Fatimah Maksumah, sementara penulis sering menuliskannya dan memberikan informasi sekilas tentang keberadaan tempat tersebut yang memberi nuansa religius yang sangat kental di kota Qom.
Rasa penasaran dan keinginan tahuan yang besar mengenai Haram ini yang selalu diceritakan penulis berkubah emas dan indah, memancing pembaca untuk menuntaskan pembacaannya sampai lembaran terakhir.

Di lembar-lembar akhirlah, penulis menceritakan sosok Sayyidah Fatimah Maksumah, mengenai mimpi-mimpi dan keinginannya, simbolitas dari sebuah kisah tentang sebuah keinginan yang tidak terwujud. Namun dari keinginan yang tidak terwujud itulah, Allah mendesain perencanaan yang lebih indah dan menakjubkan.

Asep Muhammad, Daniel Nikbakht, Dewa Darmawangsa, Mohsen dan Muhammad Syafiq, di antaranya tokoh-tokoh yang diceritakan masing-masing memiliki mimpi-mimpi yang indah, yang mereka pancangkan tinggi-tinggi di atas langit Persia. Di antara mimpi-mimpi itu ada yang memudar, terbang, bahkan jatuh entah ke mana. Namun perencanaan Allah selalu lebih indah. Akan selalu ada bintang yang lebih besar dan lebih terang cahayanya sebagai penggantinya.

Sedikit Catatan Tambahan

Dari berbagai hal yang menakjubkan dalam novel ini, sayapun ingin sedikit memberi apresiasi sederhana. Ada beberapa keganjilan, saya tidak berani menyebutnya kelemahan, yang saya temukan dalam novel ini.

Pertama, sewaktu menceritakan Asep dan hari-hari yang dijalaninya di Hauzah penulis bertindak sebagai orang pertama, sementara ketika menceritakan problematika yang dihadapi dua orang sahabat Dewa dan Daniel, penulis memposisikan dirinya sebagai pihak ketiga.

Gaya alur bercerita yang sangat tidak biasa sebenarnya, apalagi keterkaitan antara kedua kisah tersebut dihubungkan hanya oleh sepenggal paragraf di akhir cerita, “Di belakangnya ada Dewa. Kejutan kecil adalah keikutsertaan Mohsen bersama dua orang sahabatku itu. Ini semacam reuni atas apa yang terjadi setahun lalu.” (hal. 457).

Kejadian setahun lalu inilah yang tidak diungkap oleh penulis. Kejadian yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh pembaca, sejauh mana keterlibatan Asep Muhammad dalam mengungkap kasus yang melibatkan keluarga Daniel. Termasuk rasa penasaran saya, ketika mempertemukan dua tokoh tersebut dalam satu lembar cerita, penulis bertindak sebagai pihak keberapa?. Bahkan sampai menutup lembaran terakhir novel ini, kasus spionase keluarga Daniel tetap menjadi misteri, padahal termasuk segmen terpenting kisah novel yang semestinya dituntaskan oleh penulis.

Kedua, ketidak konsistenan penulis dalam menggunakan nama panggilan Ishak Panahi, yang diceritakan penulis sebagai pengacara Daniel. Kadang penulis menyebutkannya Ishak dan lebih sering menggunakan Panahi. Pembaca bisa saja bingung untuk menentukan apakah Ishak dan Panahi adalah orang yang sama atau dua orang yang berbeda. Saya sendiri, sampai harus kembali mencari halaman di mana nama Ishak Panahi dituliskan lengkap, sekedar untuk memastikan bahwa kedua nama tersebut menunjukkan orang yang sama. Sedikit banyaknya, ketidakkonsistenan ini menganggu kenyamanan pembaca.

Ketiga, narasi alur waktu yang tidak jelas. Cara penulis menceritakan setting waktu di setiap lembar-lembar novelnya juga sangat di luar kebiasaan, sehingga sulit untuk menentukan waktu kejadian-kejadian yang diceritakan. Misalnya, kisah dalam novel ini dimulai penulis dengan menceritakan si tokoh “Aku” yang saat itu berada di Iran dan sedang menghadapi hari-hari penerimaan masuk Hauzah yang berliku dan berbelit-belit.

Pada lembaran kedua bagian pertama novel, penulis menuliskan, “seperti saat ini” yang menunjukkan kejadian yang diceritakan adalah yang sedang dialami tokoh saat itu. Namun ketika menceritakan tentang Alifiah di bab kedua, termasuk percakapan “Aku” dengan papa Alifia, penulis menuliskan, “Kini, pada malam ini, hubungan itu terasa sedemikian akrab untuk kemudian semakin menjauh.”. Penulis menyebut “malam ini” untuk sebuah kejadian yang semestinya telah terjadi, apalagi setting kejadiannya saat itu di Indonesia.

Pada saat “Aku” bercerita tentang pengalamannya mengambil syahriah (uang saku bulanan), ketidak jelasan waktu kejadian lebih tampak lagi bagi pembaca. Pada halaman 161, si Aku bercerita, “Hari ini tanggal pertama dalam kalender Qamariah,…” hanya berselang satu paragraf, si Aku kembali berkata, “Hari ini adalah tanggal dua dalam kalender Qamariah.”. Yang lebih membingungkan, dalam paragraf yang menjadi pemisah antara kedua kalimat “Hari ini…” si Aku menceritakan tentang dua tahun berikutnya. Keganjilan alur cerita sangat terasa pada bagian ini, kapan sebenarnya si Aku sedang bercerita, pada “hari ini” atau pada dua tahun setelahnya.

Keganjilan lainnya, penulis menceritakan keseharian “Aku” (Asep) yang sedang menjalani hari-hari perkuliahannya di Hauzah Qom, dan pada saat yang sama menceritakan pula mengenai hari-hari suram dan ketidakjelasan yang dihadapi Dewa Darmawangsa di Teheran. Kedua kisah yang berlangsung di dua kota yang berselisih jarak yang jauh ini, diceritakan secara berseling oleh penulis. Kesimpang siuran waktu kejadian kembali terjadi pada saat menceritakan dua kisah yang saling tumpang tindih ini.

Dewa Darmawangsa dengan visa on arrival hanya mendapat izin tinggal di Iran selama dua minggu. Untuk itu, penulis menceritakan hari demi hari yang dilewati Dewa, jam demi jamnya. Sementara ketika menceritakan keseharian “Aku” perjalanan waktunya berjalan cepat, sebagaimana diceritakannya, “Selama tiga mingu terakhir, sudah ada dua surat dari Alifia yang tergeletak begitu saja di atas meja.” (hal.338), bahkan ketika Dewa sedang melewati hari-harinya, tokoh “Aku” telah sampai pada pelajaran terakhir kelas aqidahnya yang telah dijalani berbulan-bulan.

Begitupun kalau kita jeli, mengikuti alur penceritaan penulis tentang materi Aqidah yang disajikan Syeikh Abdullah, yang secara runut, berurutan dan berkesinambungan sampai pada pelajaran terakhir, maka materi tersebut tampak hanya membutuhkan beberapa hari, sementara penulis menceritakan pelajaran tersebut selama satu semester menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Namun, terlepas dari keganjilan-keganjilan menurut pengamatan saya pribadi (yang bisa saja tidak tepat), jika ingin membaca novel yang tidak hanya sekedar menyajikan suguhan kisah drama, bukan semata permainan imajinasi, bukan sekedar menuangkan harmoni kata yang indah melainkan juga menyajikan sebuah kisah perjalanan rohani yang memukau, konflik batin yang menegangkan dan sarat dengan informasi-informasi bernas mengenai sebuah negeri yang terkesan terkucil oleh dunia luar, mengenai kebiasaan masyarakatnya, kebanggaan rakyatnya terjadap sejarah bangsa dan ketinggian peradabannya, kecintaannya yang melimpah terhadap ilmu dan pengetahuan, ingin tahu banyak mengenai bangsa yang telah mewariskan seni, budaya, etika, kesetiaan, pengabdian dan monoteisme. Kalau ingin mengetahui semua itu, saya merekomendasikan novel ini. Selamat membaca, dan jangan takut bermimpi, Tuhan akan memeluk setiap mimpi-mimpi kita, apapun itu. Tabik.

*Mahasiswa Universitas Internasional al-Mostafa Qom, Iran.

Sumber: IRIB Indonesia

18
Mei
10

Resensi: Menjelajahi Samudera Ilmu di Kota Mulla

Judul : Dari Jendela Hauzah
Penulis : Otong Sulaeman
Penerbit : Mizania
Tahun : I, 2010
Tebal : 429 halaman

Peradaban Islam di milenium pertama diakui banyak pakar telah berhasil mencapai kejayaan dan memberikan warna dan pengaruh pada dunia. Nama-nama seperti al-Razi, Ibnu Sina, atau Jabbir al-Hayyan adalah sedikit dari sekian banyak ulama Islam yang diakui di Barat sebagai peletak dasar keilmuan yang menginspirasi peradaban modern. Sayangnya, peradaban tersebut mulai meredup seiring dengan timbulnya perpecahan di kalangan umat Islam di milenium kedua.

Pada milenium ketiga inilah peradaban Islam diharapkan bangkit kembali dan berkontribusi mewujudkan kesejahteraan bagi umat. Saatnya para ilmuwan dan ulama Islam tampil memperkenalkan pada dunia konsep-konsep ajaran Islam yang mencerahkan dan bersifat solutif. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang mampu membangun peradaban tersebut adalah Hauzah Ilmiah Hujjatiah, sebuah madrasah yang terletak di Kota Qum, Iran. Sejumlah ulama dan tokoh legendaris Iran pernah belajar dan tinggal di sana. Diantaranya adalah Ayatullah Khamenei, Presiden Iran yang kemudian terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran sepeninggal Imam Khomeini.

Novel Dari Jendela Hauzah memberikan gambaran sederhana bagaimana kehidupan para pelajar Hauzah. Dikisahkan seorang pelajar asal Indonesia bernama Asep yang mendapat kesempatan berharga untuk berkelana menjelajahi samudera ilmu dan menyauk hikmah Ilahiah di Hauzah. Dengan berbekal bahasa Arab dan bahasa Persia yang terbata-bata, ia mengikuti berbagai mata pelajaran agama di semester awal, mulai dari Aqidah, Fiqih, Akhlak, Nahwu, Sharaf, dan Sejarah. Hari-hari pertamanya belajar di Hauzah ia lalui dengan bayangan Alifia, separuh jiwanya yang ia tinggalkan di Indonesia. Hingga suatu hari, seperti mendapatkan ilham, ia pun mendapatkan jalan keluar dari kepelikan yang sedang ia hadapi. Kata-kata Sayid Nabawi di kelas Akhlak menguatkan tekadnya untuk sebuah tindakan besar: melupakan Alifia. Pergulatan identitas dan pemahaman kehidupan pun tidak sampai di sana. Kehendak Allah membuatnya berada di ambang keterlibatan dalam sebuah upaya pengungkapan kasus spionase keluarga Daniel, Yahudi Iran, yang kedua orang tuanya tewas dalam peristiwa peledakan bom di Kuta, Bali.

Inti dari novel ini justru adalah pelajaran Aqidah. Pembaca disuguhkan materi Aqidah melalui metode logika dan filsafat yang pembahasannya sudah jarang di Indonesia. Perihal wajibul wujud, sifat-sifat Allah, dan lainnya berhasil dipetakan penulis dengan sempurna dalam dialog-dialog kelas. Novel yang layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mempelajari Islam dengan cara pandang baru.

Meskipun tidak termaktub di sampulnya kalimat ‘novel yang terinspirasi kisah nyata’, tidak dipungkiri bahwa di balik kisah ini ada pengalaman empirik penulis selama melanjutkan pendidikan di Hauzah Ilmiah Hujjatiah Qum, Iran, selama enam tahun. Namun, aspek memori tersebut diolah dengan imajinasi oleh penulis sehingga menjadi kisah yang istimewa. Kisah pelajar yang menempuh ilmu Agama di Hauzah yang dibumbui masalah asmara dan misteri spionase. Sangat menarik.

(Dimuat di Koran Jakarta edisi Sabtu 15 Mei 2010)

Sumber: sikupu.wordpress.com

01
Mar
10

Telah Terbit: Dari Jendela Hauzah (Novel)

Testimoni:

Novel ini tidak sekedar menyajikan eksplorasi latar Timur Tengan (Iran) sebagai syarat keglobalan tematiknya, tetapi juga sebagai upaya berbicara tentang pergulatan identitas dan teologi. Sangat menarik!
Irfan Hidayatullah, dosen Sastra Indonesia Unpad, penulis, dan aktivis Forum Lingkar Pena

“Saatnya menyibakkan hijab mazhab. Iran yang terhidang di buku ini adalah sepenggal kisah yang bisa Anda raba dan rasa, sebidang ranah yang menyimpan peristiwa unik kehidupan manusia yang tak tersaji di media. Di tangan Otong Sulaeman, kisah pelajar hauzah di Qum ini bukan semata kisah drama, namun juga wahana perjalanan ruhiyah.”
Sofie Dewayani, novelis, cerpenis

Novel “Dari Jendela Hauzah” mengukuhkan bahwa karya fiksi bukan semata
permainan imajinasi dan mengajak pembaca berkhayal ‘kosong’. Potret
Iran yang menjelma utuh berlandaskan memori dan aspek empiris
penulisnya merupakan nilai istimewa yang menggiring saya mereguk
cerita lebih jauh, tidak sekadar mencicipi.
Rini Nurul Badariah, penerjemah dan penyunting lepas.

01
Mar
10

My Travelogue (3): Shiraz

Salah satu sudut Persepolis (photo by OS)

Salah satu taman di Shiraz (photo by OS)

Shiraz adalah salah satu kota tujuan utama wisata di Iran. Salah satu situs yang paling terkenal adalah Komplek istana Persepolis (Takhte Jamshid). Meskipun sudah berupa puing, tetapi masih menyisakan gambaran kemegahan imperium Persia. Puing-puing yang sebagian berbentuk pilar-pilar istana yang masih tegak itu menghampar di dataran wilayah perbukitan gunung Rahmat, utara kota Marv Dasht, sekitar 50 kilometer utara kota Shiraz.

Persepolis dibangun sejak era Darius I (521 SM) sampai 150 tahun kemudian. Komplek istana megah ini menempati area seluas 125 hektar. Untuk memasuki komplek istana melalui gerbang Xerxes terdapat dua jalan masuk dari arah kanan dan kiri yang menanjak. Kita bisa memilih salah satunya untuk memasuki komplek yang dikitari benteng kokoh itu. Kedua jalan itu membentuk tangga zigzag yang masing-masing memiliki 110 anak tangga. Anak tangga itu akan diakhiri dengan sebuah teras yang mempertemukan dua jalan masuk tersebut. Dengan gambaran komplek istana masih utuh, di situ terdapat pintu gerbang Xerxes yang “dijaga” oleh dua patung sapi bersayap.

Memasuki pintu itu adalah memasuki koridor pendek menuju sebuah ruangan yang digagahkan oleh empat pilar. Di sebelah kiri ruangan itu terdapat pintu dan koridor pendek lagi menuju hamparan pelataran luas. Dari pintu itu akan terlihat banguan tinggi dan megah yang atapnya disanggah oleh  belasan pilar raksasa. Untuk sampai ke bangunan megah itu, dari koridor perlu melintasi pelataran dan kemudian meniti puluhan anak tangga yang tak jauh beda dengan yang pertama. Istana itu menyediakan empat jalan naik, dua dari kanan dan dua lainnya dari kiri. Jalan-jalan beranak tangga itu ditata dalam dengan posisi menyamping dan berhias relief-relief khas Persia yang indah dan eksotis.

Begitu sampai di atas, akan terlihat balkon istana yang besar dan memanjang dan dihiasi oleh 12 pilar yang menyanggah bangunan istana. Di situ terdapat dua pintu menuju aula besar dengan puluhan pilar, dan di situlah dulu berdiri singgasana imperium. Di antara puluhan pilar, kini hanya terlihat beberapa pilar saja yang masih berdiri dan relatif utuh yang menjadi saksi bisu kebesaran imperium Persia.

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Shiraz dimuat di sini)

01
Mar
10

My Travelogue (2): Kerman

Salah satu alat musik di Museum Bagh Harandi (photo by OS)

Dari Yazd, saya melanjutkan perjalanan ke Kerman. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Museum Bagh Harandi. Secara fisik-geografis, Kerman dan Yazd tidak begitu jauh berbeda. Keduanya sama-sama kota tua yang kering dan panas. Karenanya, di sejumlah bagian kota Kerman, kita juga masih melihat beberapa bangunan kuno yang di atapnya bertengger badgir. Orang-orang kaya Kerman zaman dahulu juga (yaitu para pedagang dan penguasa), membangun rumah dengan halaman yang sangat luas.

Sebagian rumah dan kebun kuno itu terawat rapi hingga kini. Kalau di Yazd ada Bagh Dowlat Abad, maka di Kerman kita bisa mendapati Bagh Harandi. Sebagaimana yang tertera di dinding dekat pintu depan bangunan, Bagh Harandi dibangun pada masa kekuasaan Dinasti Qajar (abad XIX).

Bangunan Bagh Harandi yang terlihat sangat rindang itu kini difungsikan oleh pemerintah Iran sebagai museum seni musik dan benda-benda bersejarah. Benda-benda seni ditempatkan di lantai bawah, sedangkan benda-benda bersejarah di tingkat atas.

Seni musik Iran bagi saya sangat mengagumkan. Para seniman Iran setiap saat selalu menampilkan karya-karya seni yang berbobot. Mungkin hal iti disebabkan ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah Iran terkait seni musik. Jadi, pembatasan memang ada. Misalnya saja, perempuan dilarang bernyanyi solo. Kemudian, jenis musik-musik yang melenakan (mereka menyebutnya muthrib), yaitu musik-musik yang “diproduksi hanya untuk musik itu sendiri”, dilarang. Akan tetapi, hal itu menurut saya malah memacu para seniman Iran untuk memproduksi musik-musik yang berbobot.

Salah satu karya musik yang membuat saya sangat terkesan adalah sound track serial Imam Ali. Disebutkan bahwa sound track serial tersebut disusun berdasarkan kepada notasi yang dibuat oleh seniman “Maragheh” lebih dari 400 tahun yang lalu. Nada-nada musik Maragheh memang dikenal sebagai karya hebat pada zamannya. Sayangnya, tidak ada yang mengingatnya lagi. Para pecinta seni betul-betul kehilangan jejak. Para seniman Barat mencoba menelusurinya. Tapi mereka gagal.

Kemudian tampillah Farhad Fakhreddini. Ia melakukan penelitian dan kontemplasi secara cermat dan akhirnya berhasil merekonstruksi susunan nada pada musik Maragheh. Nada-nada itulah yang kemudian digunakannya sebagai soundtrack serial Imam Ali. Sulit bagi saya untuk tidak terpukau dengan pilihan nada yang ada pada soundtrack Imam Ali tersebut. Musiknya sangat pas menggambarkan situasi keras dan getirnya kehidupan padang pasir zaman dahulu. Saya meyakini, perkembangan perfilman Iran yang sangat prestisius (film-film Iran selalu menyabet penghargaan dalam berbagai event festival film internasional), turut juga ditopang oleh kemampuan para musisi Iran.

Di Museum Bagh Harandi itulah kita bisa menyaksikan berbagai alat musik nasional dan tradisional suku-suku bangsa Iran dipamerkan. Ada daf, santur, divan, sitar, ney, dll. Nama-nama itu merujuk kepada alat-alat musik yang mirip gendang, kecapi yang dipukul, gambus, dan suling. Ada juga ruangan khusus yang memamerkan alat-alat musik khas dari berbagai negara sekitar Iran (yaitu dari kawasan Teluk dan Asia Selatan).

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Kerman dimuat di sini)

01
Mar
10

My Travelogue (1): Yazd, Kota Zoroaster

Kuil Zoroaster di Chakchak (photo by OS)

Di pasar Yazd, bersama penjaga toko

Hari pertama perjalanan saya ke Yazd, saya mendatangi Chakchak, sebuah bukit terjal yang menjadi salah satu pusat peziarahan kaum Zoroaster. Di sana, saya berkenalan dengan Goshtasb, penjaga Chachak. Usianya saya perkirakan sekitar 50 atau 60 tahun. Goshtasb mengenakan kemeja krem muda dan celana warna khaki. Di kepalanya bertengger topi putih yang sangat mirip dengan topi haji. Topi itu ia kenakan sebagai penghormatan terhadap tempat suci. Dengan lancar, seakan sudah dihapalkan, ia menceritakan latar belakang keberadaan tersebut.

“Dinasti Sasania berakhir setelah orang-orang Arab menyerbu negeri Persia dan membunuh Yazdgerd III, raja terakhir Dinasti Sasania, sekitar 1400 tahun yang lalu. Yazd saat itu adalah ibukota Dinasti Sasania, dan nama Yazd diambil dari nama raja terakhir Dinasti Sasania tersebut. Ia punya anak tujuh anak. Dua di antaranya ditawan (Belakangan, salah seorang puteri yang ditawan yaitu yang bernama Shahrbanu, dipersunting oleh Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib hingga melahirkan keturunan para imam Syiah, pen).

“Lima anaknya yang lain, satu laki-laki dan empat perempuan lari ke kawasan-kawasan pegunungan di sekitar Yazd dalam rangka menyelamatkan diri. Salah seorang puteri Yazdgerd III yang berhasil menyelamatkan diri itu bernama Nikbanu. Ia berhasil menemukan sebuah gua di gunung sangat terjal dan gersang. Ia datang ke tempat itu sambil membawa sebatang pohon chenar yang masih muda. Ajaibnya, meskipun di tempat itu hanya ada batu-batu cadas, pohon itu bisa ditanam dan tumbuh. Justru keberadaan pohon itulah yang kemudian memancing munculnya mata air di tempat ini.

“Nikbanu hanya tinggal selama lima hari di tempat ini, dan kemudian berpindah ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Akan tetapi, lima hari itu saja sudah cukup baginya untuk berlindung dari kejaran pasukan Arab serta menciptakan keajaiban. Kini Anda bisa melihat sendiri keajabian itu. Pohon chenar itu hingga kini masih berdiri tegak. Ia tumbuh di sela-sela bebatuan cadas, dan di sekeliling tempat ini, banyak mata air yang muncul di sela-sela bebatuan.

“Sejak saat itulah kami, orang-orang Zoroaster, meyakini kesucian tempat ini. Untuk mengenang lima hari peristiwa pelarian Nikbanu yang terjadi tanggal 24 hingga 28 Ordibehest (14 hingga 18 Mei, pen), ummat Zoroaster dari pelosok Iran dan berbagai penjuru dunia datang ke tempat ini. Pada hari-hari itu, hanya orang-orang Zoroaster yang diperbolehkan datang ke tempat ini, demi kenyamanan ibadah mereka. Mereka datang dari Eropa, Amerika, negara-negara Teluk, Pakistan, India, dll. Orang-orang yang bermata sipit dan berkulit kuning juga datang ke tempat ini. Tapi mereka datang seperti Anda di hari-hari biasa. Jadi saya tidak bisa memastikan agama mereka, dan saya juga tidak bertanya. Akan tetapi, selama lima tahun bekerja di sini, saya tidak pernah melihat mereka di lima hari khusus untuk orang-orang Zoroaster tersebut.”

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Yazd dimuat di sini)




About me

Otong Sulaeman, lahir di Majalengka pada 1971. Ia lulus Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1994. Selanjutnya, ia pernah mendalami Studi Ulumul Quran di Al Mustafa International University, Qom, dan sempat belajar di program pascasarjana Sastra Persia di Imam Khomeini International University, Qazvin (Iran). Namun gelar master justru didapatkannya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran tahun 2010 di bidang filologi. Saat ini dia sedang menempuh studi S3 Filologi di Unpad.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya