01
Mar
10

My Travelogue (1): Yazd, Kota Zoroaster

Kuil Zoroaster di Chakchak (photo by OS)

Di pasar Yazd, bersama penjaga toko

Hari pertama perjalanan saya ke Yazd, saya mendatangi Chakchak, sebuah bukit terjal yang menjadi salah satu pusat peziarahan kaum Zoroaster. Di sana, saya berkenalan dengan Goshtasb, penjaga Chachak. Usianya saya perkirakan sekitar 50 atau 60 tahun. Goshtasb mengenakan kemeja krem muda dan celana warna khaki. Di kepalanya bertengger topi putih yang sangat mirip dengan topi haji. Topi itu ia kenakan sebagai penghormatan terhadap tempat suci. Dengan lancar, seakan sudah dihapalkan, ia menceritakan latar belakang keberadaan tersebut.

“Dinasti Sasania berakhir setelah orang-orang Arab menyerbu negeri Persia dan membunuh Yazdgerd III, raja terakhir Dinasti Sasania, sekitar 1400 tahun yang lalu. Yazd saat itu adalah ibukota Dinasti Sasania, dan nama Yazd diambil dari nama raja terakhir Dinasti Sasania tersebut. Ia punya anak tujuh anak. Dua di antaranya ditawan (Belakangan, salah seorang puteri yang ditawan yaitu yang bernama Shahrbanu, dipersunting oleh Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib hingga melahirkan keturunan para imam Syiah, pen).

“Lima anaknya yang lain, satu laki-laki dan empat perempuan lari ke kawasan-kawasan pegunungan di sekitar Yazd dalam rangka menyelamatkan diri. Salah seorang puteri Yazdgerd III yang berhasil menyelamatkan diri itu bernama Nikbanu. Ia berhasil menemukan sebuah gua di gunung sangat terjal dan gersang. Ia datang ke tempat itu sambil membawa sebatang pohon chenar yang masih muda. Ajaibnya, meskipun di tempat itu hanya ada batu-batu cadas, pohon itu bisa ditanam dan tumbuh. Justru keberadaan pohon itulah yang kemudian memancing munculnya mata air di tempat ini.

“Nikbanu hanya tinggal selama lima hari di tempat ini, dan kemudian berpindah ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Akan tetapi, lima hari itu saja sudah cukup baginya untuk berlindung dari kejaran pasukan Arab serta menciptakan keajaiban. Kini Anda bisa melihat sendiri keajabian itu. Pohon chenar itu hingga kini masih berdiri tegak. Ia tumbuh di sela-sela bebatuan cadas, dan di sekeliling tempat ini, banyak mata air yang muncul di sela-sela bebatuan.

“Sejak saat itulah kami, orang-orang Zoroaster, meyakini kesucian tempat ini. Untuk mengenang lima hari peristiwa pelarian Nikbanu yang terjadi tanggal 24 hingga 28 Ordibehest (14 hingga 18 Mei, pen), ummat Zoroaster dari pelosok Iran dan berbagai penjuru dunia datang ke tempat ini. Pada hari-hari itu, hanya orang-orang Zoroaster yang diperbolehkan datang ke tempat ini, demi kenyamanan ibadah mereka. Mereka datang dari Eropa, Amerika, negara-negara Teluk, Pakistan, India, dll. Orang-orang yang bermata sipit dan berkulit kuning juga datang ke tempat ini. Tapi mereka datang seperti Anda di hari-hari biasa. Jadi saya tidak bisa memastikan agama mereka, dan saya juga tidak bertanya. Akan tetapi, selama lima tahun bekerja di sini, saya tidak pernah melihat mereka di lima hari khusus untuk orang-orang Zoroaster tersebut.”

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Yazd dimuat di sini)

Iklan

0 Responses to “My Travelogue (1): Yazd, Kota Zoroaster”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


About me

Otong Sulaeman, lahir di Majalengka pada 1971. Ia lulus Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1994. Selanjutnya, ia pernah mendalami Studi Ulumul Quran di Al Mustafa International University, Qom, dan sempat belajar di program pascasarjana Sastra Persia di Imam Khomeini International University, Qazvin (Iran). Namun gelar master justru didapatkannya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran tahun 2010 di bidang filologi. Saat ini dia sedang menempuh studi S3 Filologi di Unpad.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: