18
Mei
10

Resensi: Menjelajahi Samudera Ilmu di Kota Mulla

Judul : Dari Jendela Hauzah
Penulis : Otong Sulaeman
Penerbit : Mizania
Tahun : I, 2010
Tebal : 429 halaman

Peradaban Islam di milenium pertama diakui banyak pakar telah berhasil mencapai kejayaan dan memberikan warna dan pengaruh pada dunia. Nama-nama seperti al-Razi, Ibnu Sina, atau Jabbir al-Hayyan adalah sedikit dari sekian banyak ulama Islam yang diakui di Barat sebagai peletak dasar keilmuan yang menginspirasi peradaban modern. Sayangnya, peradaban tersebut mulai meredup seiring dengan timbulnya perpecahan di kalangan umat Islam di milenium kedua.

Pada milenium ketiga inilah peradaban Islam diharapkan bangkit kembali dan berkontribusi mewujudkan kesejahteraan bagi umat. Saatnya para ilmuwan dan ulama Islam tampil memperkenalkan pada dunia konsep-konsep ajaran Islam yang mencerahkan dan bersifat solutif. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang mampu membangun peradaban tersebut adalah Hauzah Ilmiah Hujjatiah, sebuah madrasah yang terletak di Kota Qum, Iran. Sejumlah ulama dan tokoh legendaris Iran pernah belajar dan tinggal di sana. Diantaranya adalah Ayatullah Khamenei, Presiden Iran yang kemudian terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran sepeninggal Imam Khomeini.

Novel Dari Jendela Hauzah memberikan gambaran sederhana bagaimana kehidupan para pelajar Hauzah. Dikisahkan seorang pelajar asal Indonesia bernama Asep yang mendapat kesempatan berharga untuk berkelana menjelajahi samudera ilmu dan menyauk hikmah Ilahiah di Hauzah. Dengan berbekal bahasa Arab dan bahasa Persia yang terbata-bata, ia mengikuti berbagai mata pelajaran agama di semester awal, mulai dari Aqidah, Fiqih, Akhlak, Nahwu, Sharaf, dan Sejarah. Hari-hari pertamanya belajar di Hauzah ia lalui dengan bayangan Alifia, separuh jiwanya yang ia tinggalkan di Indonesia. Hingga suatu hari, seperti mendapatkan ilham, ia pun mendapatkan jalan keluar dari kepelikan yang sedang ia hadapi. Kata-kata Sayid Nabawi di kelas Akhlak menguatkan tekadnya untuk sebuah tindakan besar: melupakan Alifia. Pergulatan identitas dan pemahaman kehidupan pun tidak sampai di sana. Kehendak Allah membuatnya berada di ambang keterlibatan dalam sebuah upaya pengungkapan kasus spionase keluarga Daniel, Yahudi Iran, yang kedua orang tuanya tewas dalam peristiwa peledakan bom di Kuta, Bali.

Inti dari novel ini justru adalah pelajaran Aqidah. Pembaca disuguhkan materi Aqidah melalui metode logika dan filsafat yang pembahasannya sudah jarang di Indonesia. Perihal wajibul wujud, sifat-sifat Allah, dan lainnya berhasil dipetakan penulis dengan sempurna dalam dialog-dialog kelas. Novel yang layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mempelajari Islam dengan cara pandang baru.

Meskipun tidak termaktub di sampulnya kalimat ‘novel yang terinspirasi kisah nyata’, tidak dipungkiri bahwa di balik kisah ini ada pengalaman empirik penulis selama melanjutkan pendidikan di Hauzah Ilmiah Hujjatiah Qum, Iran, selama enam tahun. Namun, aspek memori tersebut diolah dengan imajinasi oleh penulis sehingga menjadi kisah yang istimewa. Kisah pelajar yang menempuh ilmu Agama di Hauzah yang dibumbui masalah asmara dan misteri spionase. Sangat menarik.

(Dimuat di Koran Jakarta edisi Sabtu 15 Mei 2010)

Sumber: sikupu.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


About me

Otong Sulaeman, lahir di Majalengka pada 1971. Ia lulus Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1994. Selanjutnya, ia pernah mendalami Studi Ulumul Quran di Al Mustafa International University, Qom, dan sempat belajar di program pascasarjana Sastra Persia di Imam Khomeini International University, Qazvin (Iran). Namun gelar master justru didapatkannya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran tahun 2010 di bidang filologi. Saat ini dia sedang menempuh studi S3 Filologi di Unpad.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya


%d blogger menyukai ini: