Archive for the 'Novel' Category

21
Mei
10

Mimpi-mimpi yang Terpancang Tinggi di Langit Persia

Dari Jendela Hauzah
Penerbit : Mizania
Pengarang : Otong Sulaeman
Halaman : 460 hal
ISBN : 978-602-8236-64-5

-sebuah resensi-
oleh: Ismail Amin*

“Tujukanlah mimpimu tepat pada bintang, kalaupun salah sasaran, mimpimu tetap bergantung tinggi di langit” (Soekarno, Presiden RI pertama)

Abdul Hadi WM dalam catatannya, Jagat dan Estetika Sastra Sufi Nusantara (2007) mengutip Braginsky, mengklasifikasikan karya-karya Melayu klasik ke dalam tiga kategori berdasar teori perenial.

Pertama, karya-karya yang memaparkan sfera kamal atau penyempurnaan batin, misalnya sastra sufi. Kedua, karya-karya yang memaparkan sfera faedah, semisal karya-karya yang menebar manfaat dan mengajarkan adab kepada masyarakat. Ketiga, karya-karya yang memaparkan sfera keindahan atau kenikmatan lahir. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kisah-kisah pelipur lara.

Klasifikasi Braginsky ini berdasar pada nilai estetika dan teori seni yang berbeda demi memenuhi fungsi yang berbeda pula, sehingga terkadang berdiri sendiri-sendiri. Namun, ketika membaca novel “Dari Jendela Hauzah” besutan Otong Sulaeman, tiga bentuk sastra dengan hakikat dan fungsi yang berbeda-beda itu, tidak berdiri sendiri.

Dari jalinan cerita yang dibuatnya, ketiga bentuk sasta itu saling berkelindan dan melengkapi. Dengan pilihan-pilihan kata yang tepat, Otong memaparkan sfera kamal untuk menggambarkan perjalanan spritualnya layaknya seorang sufi. Pada bagian sfera faedah, ia mengajarkan adab dan nilai-nilai luhur dengan memaparkan sfera keindahan, yakni kisah-kisah pelipur lara dari para tokohnya.

Dengan setting negara para Mullah, Iran, Otong Sulaeman secara apik menceritakan kisah perjalanan spiritual masing-masing tokohnya, yang diselingi romansa cinta yang berbeda-beda.

Dengan suksesnya Habiburrahman El Shirazy, menulis karya-karya berlatar santri, diantaranya Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih (1 dan 2), maka belantika sastra nusantara pun diramaikan dengan karya-karya berlatar serupa. Sedikit banyaknya, kehadiran novel inipun bisa jadi mendapat pengaruh dari kesuksesan tersebut.

Tampaknya, bukanlah sebuah aib dan kesalahan jika harus menulis sebuah tema yang sama dan telah berulang-ulang. Di antara salah satu kisah yang tersaji dalam buku Chicken Soup for The Writer’s Soul. Buku yang disusun Jack Canfield, Mark V Hansen, dan Bud Gardner, ada seorang profesor berkata kepada seorang penulis partikelir: “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik dari pada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, dan petualangan… lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan jadi penulis. Pelajarilah akuntansi!”

Atas komentar seperti ini, sastrawan kelahiran Chicago, Irving Wallace (1916-1990), gusar dan membentak: “Kata-kata ini konyol, benar-benar bodoh. Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama. Bukankah tak pernah ada yang melihat cinta atau merasakan benci persis seperti kau melihatnya?.”

Mungkin dengan semangat, “Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama?” inilah, Otong Sulaeman berani menuntaskan novel yang memuat 460 halaman ini, meskipun berada dalam bayang-bayang kesuksesan karya-karya Habiburrahman El Shirazy yang menjadi Mega Best Seller dan memberi pengaruh besar pada perkembangan gentre sastra selanjutnya di nusantara.

Otong Sulaeman membuktikan dirinya sebagai pribadi yang berbeda, yang memiliki emosi dan apresiasi mengenai percintaan yang tidak sama dengan Habiburrahman. Kekuatan novelnya adalah kemampuannya meramu drama percintaan beberapa tokohnya dengan pergulatan pribadi masing-masing mereka dalam perjalanannya menemukan identitas diri.

Dalam novel ini, kita menemukan kisah Asep, yang dilanda dilema ketika harus memilih untuk tetap membulatkan tekadnya melakukan pengembaraan spiritual ke negeri Iran, dan meninggalkan calon istri yang sangat dicintainya serta janji pekerjaan mapan dari calon mertuanya.

Tidak mudah untuk tetap bersikukuh memegang kuat idealisme. Namun bagi Asep menuntut ilmu, terlebih lagi ilmu-ilmu agama adalah segalanya, meskipun harus menanggung perihnya luka dan buncahan kerinduan di setiap perjalanannya. Dengan bahasa sendu, penulis menggambarkan suasana hati Asep, “Hingga kini, aku merasa ada bagian dari diriku yang tertinggal di Indonesia.” (hal. 8).

Lebih rumit dari itu, ada tokoh Daniel Nikbakht seorang Yahudi Iran yang jatuh cinta pada Wafa, seorang muslimah berjilbab berkebangsaan Lebanon dan berasal dari keluarga yang taat beragama. Sejak mengenalnya, Daniel yang sebelumnya sangat acuh terhadap agama dan hal-hal yang bersifat religius menjadi tertarik untuk mendalami Islam lebih jauh. Namun, ketika ia telah menetapkan diri untuk berpindah agama dan memeluk Islam untuk kemudian melamar wafa, kejadian serba tiba-tiba merusak segala rencana dan impiannya.

Kekerasan dan teror atas nama agama terjadi di depan matanya, kedua orang tuanya tewas dalam peristiwa itu dan ia dijebloskan ke dalam penjara atas tuduhan yang tidak pernah ia mengerti. Sejak itu, agama dan Tuhan menjadi bahan olok-olokan dan hujatannya. Ia bahkan berada diambang keputusasaan dan depresi berat, sampai berniat ingin mengakhiri hidupnya.

Sahabat Daniel, Dewa Darmawangsa, memiliki kisah percintaan yang tidak kalah peliknya. Ia seorang muslim berkebangsaan Indonesia di negara yang mayoritas penduduknya muslim, namun sama sekali tidak mengenal hal-hal penting dalam agamanya, bahkan memandang Islam dengan paradigma terbalik. Bagi Dewa semakin berislam seseorang, maka ia semakin berbahaya bagi kemanusiaan.
Di manta Dewa, perjuangan rakyat Palestina untuk melepaskan diri dari cengkeraman kesewenang-wenangan Israel adalah tindakan teror dan pembangkangan yang layak mendapatkan muntahan rudal dan serang artileri sebagai balasannya. Namun keterlibatannya dengan kasus sahabat setianya, Daniel, membuat ia harus ke Iran dan mengalami hal-hal yang mengejutkan dan menggugah imannya di negeri itu.

Banyak hal-hal berbau spiritual yang ditemukan Dewa di Iran. Tanpa disadarinya, ia bisa melupakan Sinta, mantan pacarnya, seorang foto model seksi, yang memutuskannya begitu saja. Ia mulai tertarik dengan Narges, seorang muslimah Iran, anak dari Syeikh Abdullah seorang tenaga pengajar di Hauzah.

Dalam novel ini kita juga disuguhi tragedi cinta dan perjalanan spiritual yang lebih memilukan. Muhammad Syafiq seorang berkebangsaan Afrika Selatan, sahabat dekat tokoh utama, Asep Muhammad. Di antara keluarganya, ia satu-satunya seorang muslim, anggota keluarga lainnya menganut Kristen Abangan.

Sebelum masuk Islam nama sebelumnya Marteen. Ia menikah dengan Layla, seorang muslimah berkulit hitam, dari istrinya ia mendapatkan dua anak, Ali Abbas dan Fatimah. Kepergiannya menunaikan ibadah haji ketika anak bungsunya Fatimah berusia 6 bulan, mengubah jalan hidupnya kemudian.

Di Mekah, Syafiq bertemu dengan jamaah haji dari Iran. Ia kemudian tertarik untuk lebih mendalami ilmu keagamaannya di kota sejuta mullah di Qom, Iran. Atas rekomendasi seorang ulama Iran, ia pun akhirnya termasuk di antara talabeh (pelajar) asing yang mengenyam ilmu-ilmu agama di Hauzah Qom Iran.

Kepergiannya ke Mekah benar-benar mengubah jalan hidup Syafiq. Ia bertemu jamaah haji Iran, dan merasa menemukan aktualisasi Islam sejati. Secara antusias, Syafiq mengisi hari-hari di Mekah dengan diskusi dan saling bertukar pikiran dengan mereka, membicarakan tentang nasib dan masa depan umat Islam. Bahkan bersama orang Iran tersebut, beserta jamaah dari Irak dan Lebanon, ia turut serta dalam demonstrasi. Syafiq bahagia atas pengalaman spritualnya itu, namun dari situ pula petaka hidupnya bermula.

Kesalahan fatal yang dilakukan Syafiq sewaktu menjalankan ritualitas Haji, harus dibayar mahal dengan ketidakharmonisan keluarganya. Sepulang dari Mekah, hari-harinya diisi dengan kepiluan, nestapa dan rasa bersalah yang sangat besar terhadap istrinya. Sampai akhirnya istri yang sangat dicintainya memilih laki-laki lain untuk menggantikan posisinya sebagai suami. Ia ikhlas dan ridha atas semua itu, karena dibalik luka percintaan itu ada semangat besar untuk tetap berpegang pada aturan fiqh yang diyakininya. Ia mencintai istri dan keluarganya, lebih dari itu, cintanya lebih terpaut kepada Allah, lebih dari segalanya.

Kesetiaan, pengorbanaan dan kecintaan tanpa pamrih tergambar dari ketokohan Mohsen, seorang petugas kepolisian Iran yang mendapat tugas untuk menangani kasus spionase keluarga Daniel. Meskipun tahu, Maryam calon istrinya terkena penyakit berbahaya akibat efek bom kimia semasa perang Irak-Iran, ia tetap nekad menyuntingnya.

Alasan untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak wajar -lewat ketokohan Mohsen- digambarkan penulis dalam kata-kata, “Saya sangat percaya adanya kehidupan yang abadi dan hakiki setelah kehidupan di dunia ini. Penderitaan sangat berat selama bertahun-tahun yang ditanggung Maryam akan dibalas oleh Allah dengan derajat yang mulia di alam akhirat nanti. Saya tidak tahu nasib saya di akhirat nanti. Tapi dengan mempersunting dan mendampingi Maryam sampai detik-detik terakhir kehidupannya, saya berharap ini akan menjadi kebaikan sendiri dalam pandangan Allah.”(hal. 384).

Cinta dan kesetiaan Mohsen tidak berakhir dengan meninggalnya Maryam, ia tetap menziarahi makam istrinya sebagai rutinitas setiap akhir pekan. Mohsen menceritakan kepiluannya ditinggal sang kekasih kepada Dewa. Bagi Mohsen, Maryam selalu hadir dalam mimpi-mimpinya, meskipun berada dalam dua dunia yang berbeda. (hal. 385).

Pelajaran Teologi, Sejarah dan Budaya Iran

Lebih dari sebuah novel, karya Otong Sulaeman ini juga bisa dikategorikan sebagai diktat kuliah atau buku ajar. Penulis meramu kisah percintaan dan konflik-konflik batin para tokohnya dengan selingan informasi dan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Lewat materi-materi kuliah yang disampaikan Syaikh Abdullah, Sayid Nabawi dan Syaikh Bahjat, seakan-akan kita berada dalam ruang kuliah bersama para talabeh (pelajar) hauzah dan mendapat sajian kuliah aqidah, akhlak dan Irfan.

Kita kembali dipertemukan dengan istilah-istilah teologi dalam pembahasan ma’rifatullah yang telah lama disingkirkan dalam pelajaran-pelajaran agama di mayoritas lembaga pendidikan keagamaan kita, semisal wajibul wujud, ‘illiyah, sifat fi’li, sifat dzati, pengenalan Allah lewat fitrah dan argumentasi logis dan sebagainya. Kitapun mendapat pencerahan filosofis mengenai eksistensi Allah, sifat-sifatnya dan ke Maha Kuasaan-Nya.

Seakan tidak ingin ada selembarpun yang tertulis sia-sia, kitapun disuguhi informasi banyak hal tentang Iran. Tradisi masyarakatnya, dari do’a Nudbah, ziarah ke makam-makam suci sampai keadaan pasar, kesemrawutan lalu lintasnya, kerumitan birokrasinya dan pelosok-pelosok perumahannya.

Lewat percakapan dan penggalan-penggalan fragmen para tokohnya, kita diperkenalkan dengan ungkapan-ungkapan sehari-hari masyarakat Iran yang berbahasa Persia, seperti mamnun (terimakasih), bebakshid (maaf), khudo hofez (sampai jumpa), bale (iya), bobo (ayah) dan lain-lain.

Begitu juga menu makanan masyarakat Iran yang diekspresikan penulis, rasanya sangat tidak cocok dengan lidah orang Indonesia. Sampai diceritakan memasak menu masakan sendiri menjadi rutinitas tersendiri pelajar-pelajar Indonesia yang berada di Qom Iran.

Lebih dari itu, penggambaran mendetail tentang tempat-tempat yang penting di dua kota di Iran, Qom dan Teheran dengan bubuhan informasi yang tidak kalah pentingnya. Termasuk Madrasah Hujjatiyah di jantung kota Qom, yang telah melahirkan banyak ulama-ulama besar dan berpengaruh di dunia Islam, di antaranya Ayatullah Khamanei, pemimpin besar revolusi Islam Iran saat ini dan Sayid Hasan Nasrallah, pemimpin gerakan Hizbullah Lebanon.

Buku ini, tidak hanya membicarakan bentuk arsitektur, letak dan jumlah bangunannya, namun juga sejarah berdiri dan pendirinya. Penulis yang pernah merasakan langsung aroma kehidupan dan hiruk pikuk di kota Qom selama kurang lebih tujuh tahun, bahkan menghirup sendiri secara langsung hawa pendidikan dan aktivitas intelektual di Madrasah Hujjatiyah menjadikan informasi yang beliau suguhan benar-benar otentik dan layak dipercaya.

Mimpi-mimpi yang Tak Sampai

Menariknya, penulis terkesan sengaja menahan diri untuk menunda cerita mengenai Haram Sayyidah Fatimah Maksumah, sementara penulis sering menuliskannya dan memberikan informasi sekilas tentang keberadaan tempat tersebut yang memberi nuansa religius yang sangat kental di kota Qom.
Rasa penasaran dan keinginan tahuan yang besar mengenai Haram ini yang selalu diceritakan penulis berkubah emas dan indah, memancing pembaca untuk menuntaskan pembacaannya sampai lembaran terakhir.

Di lembar-lembar akhirlah, penulis menceritakan sosok Sayyidah Fatimah Maksumah, mengenai mimpi-mimpi dan keinginannya, simbolitas dari sebuah kisah tentang sebuah keinginan yang tidak terwujud. Namun dari keinginan yang tidak terwujud itulah, Allah mendesain perencanaan yang lebih indah dan menakjubkan.

Asep Muhammad, Daniel Nikbakht, Dewa Darmawangsa, Mohsen dan Muhammad Syafiq, di antaranya tokoh-tokoh yang diceritakan masing-masing memiliki mimpi-mimpi yang indah, yang mereka pancangkan tinggi-tinggi di atas langit Persia. Di antara mimpi-mimpi itu ada yang memudar, terbang, bahkan jatuh entah ke mana. Namun perencanaan Allah selalu lebih indah. Akan selalu ada bintang yang lebih besar dan lebih terang cahayanya sebagai penggantinya.

Sedikit Catatan Tambahan

Dari berbagai hal yang menakjubkan dalam novel ini, sayapun ingin sedikit memberi apresiasi sederhana. Ada beberapa keganjilan, saya tidak berani menyebutnya kelemahan, yang saya temukan dalam novel ini.

Pertama, sewaktu menceritakan Asep dan hari-hari yang dijalaninya di Hauzah penulis bertindak sebagai orang pertama, sementara ketika menceritakan problematika yang dihadapi dua orang sahabat Dewa dan Daniel, penulis memposisikan dirinya sebagai pihak ketiga.

Gaya alur bercerita yang sangat tidak biasa sebenarnya, apalagi keterkaitan antara kedua kisah tersebut dihubungkan hanya oleh sepenggal paragraf di akhir cerita, “Di belakangnya ada Dewa. Kejutan kecil adalah keikutsertaan Mohsen bersama dua orang sahabatku itu. Ini semacam reuni atas apa yang terjadi setahun lalu.” (hal. 457).

Kejadian setahun lalu inilah yang tidak diungkap oleh penulis. Kejadian yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh pembaca, sejauh mana keterlibatan Asep Muhammad dalam mengungkap kasus yang melibatkan keluarga Daniel. Termasuk rasa penasaran saya, ketika mempertemukan dua tokoh tersebut dalam satu lembar cerita, penulis bertindak sebagai pihak keberapa?. Bahkan sampai menutup lembaran terakhir novel ini, kasus spionase keluarga Daniel tetap menjadi misteri, padahal termasuk segmen terpenting kisah novel yang semestinya dituntaskan oleh penulis.

Kedua, ketidak konsistenan penulis dalam menggunakan nama panggilan Ishak Panahi, yang diceritakan penulis sebagai pengacara Daniel. Kadang penulis menyebutkannya Ishak dan lebih sering menggunakan Panahi. Pembaca bisa saja bingung untuk menentukan apakah Ishak dan Panahi adalah orang yang sama atau dua orang yang berbeda. Saya sendiri, sampai harus kembali mencari halaman di mana nama Ishak Panahi dituliskan lengkap, sekedar untuk memastikan bahwa kedua nama tersebut menunjukkan orang yang sama. Sedikit banyaknya, ketidakkonsistenan ini menganggu kenyamanan pembaca.

Ketiga, narasi alur waktu yang tidak jelas. Cara penulis menceritakan setting waktu di setiap lembar-lembar novelnya juga sangat di luar kebiasaan, sehingga sulit untuk menentukan waktu kejadian-kejadian yang diceritakan. Misalnya, kisah dalam novel ini dimulai penulis dengan menceritakan si tokoh “Aku” yang saat itu berada di Iran dan sedang menghadapi hari-hari penerimaan masuk Hauzah yang berliku dan berbelit-belit.

Pada lembaran kedua bagian pertama novel, penulis menuliskan, “seperti saat ini” yang menunjukkan kejadian yang diceritakan adalah yang sedang dialami tokoh saat itu. Namun ketika menceritakan tentang Alifiah di bab kedua, termasuk percakapan “Aku” dengan papa Alifia, penulis menuliskan, “Kini, pada malam ini, hubungan itu terasa sedemikian akrab untuk kemudian semakin menjauh.”. Penulis menyebut “malam ini” untuk sebuah kejadian yang semestinya telah terjadi, apalagi setting kejadiannya saat itu di Indonesia.

Pada saat “Aku” bercerita tentang pengalamannya mengambil syahriah (uang saku bulanan), ketidak jelasan waktu kejadian lebih tampak lagi bagi pembaca. Pada halaman 161, si Aku bercerita, “Hari ini tanggal pertama dalam kalender Qamariah,…” hanya berselang satu paragraf, si Aku kembali berkata, “Hari ini adalah tanggal dua dalam kalender Qamariah.”. Yang lebih membingungkan, dalam paragraf yang menjadi pemisah antara kedua kalimat “Hari ini…” si Aku menceritakan tentang dua tahun berikutnya. Keganjilan alur cerita sangat terasa pada bagian ini, kapan sebenarnya si Aku sedang bercerita, pada “hari ini” atau pada dua tahun setelahnya.

Keganjilan lainnya, penulis menceritakan keseharian “Aku” (Asep) yang sedang menjalani hari-hari perkuliahannya di Hauzah Qom, dan pada saat yang sama menceritakan pula mengenai hari-hari suram dan ketidakjelasan yang dihadapi Dewa Darmawangsa di Teheran. Kedua kisah yang berlangsung di dua kota yang berselisih jarak yang jauh ini, diceritakan secara berseling oleh penulis. Kesimpang siuran waktu kejadian kembali terjadi pada saat menceritakan dua kisah yang saling tumpang tindih ini.

Dewa Darmawangsa dengan visa on arrival hanya mendapat izin tinggal di Iran selama dua minggu. Untuk itu, penulis menceritakan hari demi hari yang dilewati Dewa, jam demi jamnya. Sementara ketika menceritakan keseharian “Aku” perjalanan waktunya berjalan cepat, sebagaimana diceritakannya, “Selama tiga mingu terakhir, sudah ada dua surat dari Alifia yang tergeletak begitu saja di atas meja.” (hal.338), bahkan ketika Dewa sedang melewati hari-harinya, tokoh “Aku” telah sampai pada pelajaran terakhir kelas aqidahnya yang telah dijalani berbulan-bulan.

Begitupun kalau kita jeli, mengikuti alur penceritaan penulis tentang materi Aqidah yang disajikan Syeikh Abdullah, yang secara runut, berurutan dan berkesinambungan sampai pada pelajaran terakhir, maka materi tersebut tampak hanya membutuhkan beberapa hari, sementara penulis menceritakan pelajaran tersebut selama satu semester menghabiskan waktu berbulan-bulan.

Namun, terlepas dari keganjilan-keganjilan menurut pengamatan saya pribadi (yang bisa saja tidak tepat), jika ingin membaca novel yang tidak hanya sekedar menyajikan suguhan kisah drama, bukan semata permainan imajinasi, bukan sekedar menuangkan harmoni kata yang indah melainkan juga menyajikan sebuah kisah perjalanan rohani yang memukau, konflik batin yang menegangkan dan sarat dengan informasi-informasi bernas mengenai sebuah negeri yang terkesan terkucil oleh dunia luar, mengenai kebiasaan masyarakatnya, kebanggaan rakyatnya terjadap sejarah bangsa dan ketinggian peradabannya, kecintaannya yang melimpah terhadap ilmu dan pengetahuan, ingin tahu banyak mengenai bangsa yang telah mewariskan seni, budaya, etika, kesetiaan, pengabdian dan monoteisme. Kalau ingin mengetahui semua itu, saya merekomendasikan novel ini. Selamat membaca, dan jangan takut bermimpi, Tuhan akan memeluk setiap mimpi-mimpi kita, apapun itu. Tabik.

*Mahasiswa Universitas Internasional al-Mostafa Qom, Iran.

Sumber: IRIB Indonesia

Iklan
18
Mei
10

Resensi: Menjelajahi Samudera Ilmu di Kota Mulla

Judul : Dari Jendela Hauzah
Penulis : Otong Sulaeman
Penerbit : Mizania
Tahun : I, 2010
Tebal : 429 halaman

Peradaban Islam di milenium pertama diakui banyak pakar telah berhasil mencapai kejayaan dan memberikan warna dan pengaruh pada dunia. Nama-nama seperti al-Razi, Ibnu Sina, atau Jabbir al-Hayyan adalah sedikit dari sekian banyak ulama Islam yang diakui di Barat sebagai peletak dasar keilmuan yang menginspirasi peradaban modern. Sayangnya, peradaban tersebut mulai meredup seiring dengan timbulnya perpecahan di kalangan umat Islam di milenium kedua.

Pada milenium ketiga inilah peradaban Islam diharapkan bangkit kembali dan berkontribusi mewujudkan kesejahteraan bagi umat. Saatnya para ilmuwan dan ulama Islam tampil memperkenalkan pada dunia konsep-konsep ajaran Islam yang mencerahkan dan bersifat solutif. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang mampu membangun peradaban tersebut adalah Hauzah Ilmiah Hujjatiah, sebuah madrasah yang terletak di Kota Qum, Iran. Sejumlah ulama dan tokoh legendaris Iran pernah belajar dan tinggal di sana. Diantaranya adalah Ayatullah Khamenei, Presiden Iran yang kemudian terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran sepeninggal Imam Khomeini.

Novel Dari Jendela Hauzah memberikan gambaran sederhana bagaimana kehidupan para pelajar Hauzah. Dikisahkan seorang pelajar asal Indonesia bernama Asep yang mendapat kesempatan berharga untuk berkelana menjelajahi samudera ilmu dan menyauk hikmah Ilahiah di Hauzah. Dengan berbekal bahasa Arab dan bahasa Persia yang terbata-bata, ia mengikuti berbagai mata pelajaran agama di semester awal, mulai dari Aqidah, Fiqih, Akhlak, Nahwu, Sharaf, dan Sejarah. Hari-hari pertamanya belajar di Hauzah ia lalui dengan bayangan Alifia, separuh jiwanya yang ia tinggalkan di Indonesia. Hingga suatu hari, seperti mendapatkan ilham, ia pun mendapatkan jalan keluar dari kepelikan yang sedang ia hadapi. Kata-kata Sayid Nabawi di kelas Akhlak menguatkan tekadnya untuk sebuah tindakan besar: melupakan Alifia. Pergulatan identitas dan pemahaman kehidupan pun tidak sampai di sana. Kehendak Allah membuatnya berada di ambang keterlibatan dalam sebuah upaya pengungkapan kasus spionase keluarga Daniel, Yahudi Iran, yang kedua orang tuanya tewas dalam peristiwa peledakan bom di Kuta, Bali.

Inti dari novel ini justru adalah pelajaran Aqidah. Pembaca disuguhkan materi Aqidah melalui metode logika dan filsafat yang pembahasannya sudah jarang di Indonesia. Perihal wajibul wujud, sifat-sifat Allah, dan lainnya berhasil dipetakan penulis dengan sempurna dalam dialog-dialog kelas. Novel yang layak dibaca oleh siapa saja yang ingin mempelajari Islam dengan cara pandang baru.

Meskipun tidak termaktub di sampulnya kalimat ‘novel yang terinspirasi kisah nyata’, tidak dipungkiri bahwa di balik kisah ini ada pengalaman empirik penulis selama melanjutkan pendidikan di Hauzah Ilmiah Hujjatiah Qum, Iran, selama enam tahun. Namun, aspek memori tersebut diolah dengan imajinasi oleh penulis sehingga menjadi kisah yang istimewa. Kisah pelajar yang menempuh ilmu Agama di Hauzah yang dibumbui masalah asmara dan misteri spionase. Sangat menarik.

(Dimuat di Koran Jakarta edisi Sabtu 15 Mei 2010)

Sumber: sikupu.wordpress.com

01
Mar
10

Telah Terbit: Dari Jendela Hauzah (Novel)

Testimoni:

Novel ini tidak sekedar menyajikan eksplorasi latar Timur Tengan (Iran) sebagai syarat keglobalan tematiknya, tetapi juga sebagai upaya berbicara tentang pergulatan identitas dan teologi. Sangat menarik!
Irfan Hidayatullah, dosen Sastra Indonesia Unpad, penulis, dan aktivis Forum Lingkar Pena

“Saatnya menyibakkan hijab mazhab. Iran yang terhidang di buku ini adalah sepenggal kisah yang bisa Anda raba dan rasa, sebidang ranah yang menyimpan peristiwa unik kehidupan manusia yang tak tersaji di media. Di tangan Otong Sulaeman, kisah pelajar hauzah di Qum ini bukan semata kisah drama, namun juga wahana perjalanan ruhiyah.”
Sofie Dewayani, novelis, cerpenis

Novel “Dari Jendela Hauzah” mengukuhkan bahwa karya fiksi bukan semata
permainan imajinasi dan mengajak pembaca berkhayal ‘kosong’. Potret
Iran yang menjelma utuh berlandaskan memori dan aspek empiris
penulisnya merupakan nilai istimewa yang menggiring saya mereguk
cerita lebih jauh, tidak sekadar mencicipi.
Rini Nurul Badariah, penerjemah dan penyunting lepas.




About me

Otong Sulaeman, lahir di Majalengka pada 1971. Ia lulus Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1994. Selanjutnya, ia pernah mendalami Studi Ulumul Quran di Al Mustafa International University, Qom, dan sempat belajar di program pascasarjana Sastra Persia di Imam Khomeini International University, Qazvin (Iran). Namun gelar master justru didapatkannya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran tahun 2010 di bidang filologi. Saat ini dia sedang menempuh studi S3 Filologi di Unpad.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya