Archive for the 'Travelogue' Category

01
Mar
10

My Travelogue (3): Shiraz

Salah satu sudut Persepolis (photo by OS)

Salah satu taman di Shiraz (photo by OS)

Shiraz adalah salah satu kota tujuan utama wisata di Iran. Salah satu situs yang paling terkenal adalah Komplek istana Persepolis (Takhte Jamshid). Meskipun sudah berupa puing, tetapi masih menyisakan gambaran kemegahan imperium Persia. Puing-puing yang sebagian berbentuk pilar-pilar istana yang masih tegak itu menghampar di dataran wilayah perbukitan gunung Rahmat, utara kota Marv Dasht, sekitar 50 kilometer utara kota Shiraz.

Persepolis dibangun sejak era Darius I (521 SM) sampai 150 tahun kemudian. Komplek istana megah ini menempati area seluas 125 hektar. Untuk memasuki komplek istana melalui gerbang Xerxes terdapat dua jalan masuk dari arah kanan dan kiri yang menanjak. Kita bisa memilih salah satunya untuk memasuki komplek yang dikitari benteng kokoh itu. Kedua jalan itu membentuk tangga zigzag yang masing-masing memiliki 110 anak tangga. Anak tangga itu akan diakhiri dengan sebuah teras yang mempertemukan dua jalan masuk tersebut. Dengan gambaran komplek istana masih utuh, di situ terdapat pintu gerbang Xerxes yang “dijaga” oleh dua patung sapi bersayap.

Memasuki pintu itu adalah memasuki koridor pendek menuju sebuah ruangan yang digagahkan oleh empat pilar. Di sebelah kiri ruangan itu terdapat pintu dan koridor pendek lagi menuju hamparan pelataran luas. Dari pintu itu akan terlihat banguan tinggi dan megah yang atapnya disanggah oleh  belasan pilar raksasa. Untuk sampai ke bangunan megah itu, dari koridor perlu melintasi pelataran dan kemudian meniti puluhan anak tangga yang tak jauh beda dengan yang pertama. Istana itu menyediakan empat jalan naik, dua dari kanan dan dua lainnya dari kiri. Jalan-jalan beranak tangga itu ditata dalam dengan posisi menyamping dan berhias relief-relief khas Persia yang indah dan eksotis.

Begitu sampai di atas, akan terlihat balkon istana yang besar dan memanjang dan dihiasi oleh 12 pilar yang menyanggah bangunan istana. Di situ terdapat dua pintu menuju aula besar dengan puluhan pilar, dan di situlah dulu berdiri singgasana imperium. Di antara puluhan pilar, kini hanya terlihat beberapa pilar saja yang masih berdiri dan relatif utuh yang menjadi saksi bisu kebesaran imperium Persia.

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Shiraz dimuat di sini)

Iklan
01
Mar
10

My Travelogue (2): Kerman

Salah satu alat musik di Museum Bagh Harandi (photo by OS)

Dari Yazd, saya melanjutkan perjalanan ke Kerman. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Museum Bagh Harandi. Secara fisik-geografis, Kerman dan Yazd tidak begitu jauh berbeda. Keduanya sama-sama kota tua yang kering dan panas. Karenanya, di sejumlah bagian kota Kerman, kita juga masih melihat beberapa bangunan kuno yang di atapnya bertengger badgir. Orang-orang kaya Kerman zaman dahulu juga (yaitu para pedagang dan penguasa), membangun rumah dengan halaman yang sangat luas.

Sebagian rumah dan kebun kuno itu terawat rapi hingga kini. Kalau di Yazd ada Bagh Dowlat Abad, maka di Kerman kita bisa mendapati Bagh Harandi. Sebagaimana yang tertera di dinding dekat pintu depan bangunan, Bagh Harandi dibangun pada masa kekuasaan Dinasti Qajar (abad XIX).

Bangunan Bagh Harandi yang terlihat sangat rindang itu kini difungsikan oleh pemerintah Iran sebagai museum seni musik dan benda-benda bersejarah. Benda-benda seni ditempatkan di lantai bawah, sedangkan benda-benda bersejarah di tingkat atas.

Seni musik Iran bagi saya sangat mengagumkan. Para seniman Iran setiap saat selalu menampilkan karya-karya seni yang berbobot. Mungkin hal iti disebabkan ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah Iran terkait seni musik. Jadi, pembatasan memang ada. Misalnya saja, perempuan dilarang bernyanyi solo. Kemudian, jenis musik-musik yang melenakan (mereka menyebutnya muthrib), yaitu musik-musik yang “diproduksi hanya untuk musik itu sendiri”, dilarang. Akan tetapi, hal itu menurut saya malah memacu para seniman Iran untuk memproduksi musik-musik yang berbobot.

Salah satu karya musik yang membuat saya sangat terkesan adalah sound track serial Imam Ali. Disebutkan bahwa sound track serial tersebut disusun berdasarkan kepada notasi yang dibuat oleh seniman “Maragheh” lebih dari 400 tahun yang lalu. Nada-nada musik Maragheh memang dikenal sebagai karya hebat pada zamannya. Sayangnya, tidak ada yang mengingatnya lagi. Para pecinta seni betul-betul kehilangan jejak. Para seniman Barat mencoba menelusurinya. Tapi mereka gagal.

Kemudian tampillah Farhad Fakhreddini. Ia melakukan penelitian dan kontemplasi secara cermat dan akhirnya berhasil merekonstruksi susunan nada pada musik Maragheh. Nada-nada itulah yang kemudian digunakannya sebagai soundtrack serial Imam Ali. Sulit bagi saya untuk tidak terpukau dengan pilihan nada yang ada pada soundtrack Imam Ali tersebut. Musiknya sangat pas menggambarkan situasi keras dan getirnya kehidupan padang pasir zaman dahulu. Saya meyakini, perkembangan perfilman Iran yang sangat prestisius (film-film Iran selalu menyabet penghargaan dalam berbagai event festival film internasional), turut juga ditopang oleh kemampuan para musisi Iran.

Di Museum Bagh Harandi itulah kita bisa menyaksikan berbagai alat musik nasional dan tradisional suku-suku bangsa Iran dipamerkan. Ada daf, santur, divan, sitar, ney, dll. Nama-nama itu merujuk kepada alat-alat musik yang mirip gendang, kecapi yang dipukul, gambus, dan suling. Ada juga ruangan khusus yang memamerkan alat-alat musik khas dari berbagai negara sekitar Iran (yaitu dari kawasan Teluk dan Asia Selatan).

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Kerman dimuat di sini)

01
Mar
10

My Travelogue (1): Yazd, Kota Zoroaster

Kuil Zoroaster di Chakchak (photo by OS)

Di pasar Yazd, bersama penjaga toko

Hari pertama perjalanan saya ke Yazd, saya mendatangi Chakchak, sebuah bukit terjal yang menjadi salah satu pusat peziarahan kaum Zoroaster. Di sana, saya berkenalan dengan Goshtasb, penjaga Chachak. Usianya saya perkirakan sekitar 50 atau 60 tahun. Goshtasb mengenakan kemeja krem muda dan celana warna khaki. Di kepalanya bertengger topi putih yang sangat mirip dengan topi haji. Topi itu ia kenakan sebagai penghormatan terhadap tempat suci. Dengan lancar, seakan sudah dihapalkan, ia menceritakan latar belakang keberadaan tersebut.

“Dinasti Sasania berakhir setelah orang-orang Arab menyerbu negeri Persia dan membunuh Yazdgerd III, raja terakhir Dinasti Sasania, sekitar 1400 tahun yang lalu. Yazd saat itu adalah ibukota Dinasti Sasania, dan nama Yazd diambil dari nama raja terakhir Dinasti Sasania tersebut. Ia punya anak tujuh anak. Dua di antaranya ditawan (Belakangan, salah seorang puteri yang ditawan yaitu yang bernama Shahrbanu, dipersunting oleh Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib hingga melahirkan keturunan para imam Syiah, pen).

“Lima anaknya yang lain, satu laki-laki dan empat perempuan lari ke kawasan-kawasan pegunungan di sekitar Yazd dalam rangka menyelamatkan diri. Salah seorang puteri Yazdgerd III yang berhasil menyelamatkan diri itu bernama Nikbanu. Ia berhasil menemukan sebuah gua di gunung sangat terjal dan gersang. Ia datang ke tempat itu sambil membawa sebatang pohon chenar yang masih muda. Ajaibnya, meskipun di tempat itu hanya ada batu-batu cadas, pohon itu bisa ditanam dan tumbuh. Justru keberadaan pohon itulah yang kemudian memancing munculnya mata air di tempat ini.

“Nikbanu hanya tinggal selama lima hari di tempat ini, dan kemudian berpindah ke tempat lain yang dianggap lebih aman. Akan tetapi, lima hari itu saja sudah cukup baginya untuk berlindung dari kejaran pasukan Arab serta menciptakan keajaiban. Kini Anda bisa melihat sendiri keajabian itu. Pohon chenar itu hingga kini masih berdiri tegak. Ia tumbuh di sela-sela bebatuan cadas, dan di sekeliling tempat ini, banyak mata air yang muncul di sela-sela bebatuan.

“Sejak saat itulah kami, orang-orang Zoroaster, meyakini kesucian tempat ini. Untuk mengenang lima hari peristiwa pelarian Nikbanu yang terjadi tanggal 24 hingga 28 Ordibehest (14 hingga 18 Mei, pen), ummat Zoroaster dari pelosok Iran dan berbagai penjuru dunia datang ke tempat ini. Pada hari-hari itu, hanya orang-orang Zoroaster yang diperbolehkan datang ke tempat ini, demi kenyamanan ibadah mereka. Mereka datang dari Eropa, Amerika, negara-negara Teluk, Pakistan, India, dll. Orang-orang yang bermata sipit dan berkulit kuning juga datang ke tempat ini. Tapi mereka datang seperti Anda di hari-hari biasa. Jadi saya tidak bisa memastikan agama mereka, dan saya juga tidak bertanya. Akan tetapi, selama lima tahun bekerja di sini, saya tidak pernah melihat mereka di lima hari khusus untuk orang-orang Zoroaster tersebut.”

(Cerita lengkap tentang kunjungan saya ke Yazd dimuat di sini)

01
Mar
10

Pelangi di Persia

Buku ini ditulis oleh Dina Y. Sulaeman, tetapi di dalamnya saya menyumbang tulisan catatan perjalanan ke-3 kota di Iran: Yazd, Kerman, Shiraz. Berikut ini testimoni sebagian pembaca, dikutip dari goodreads.

Nadiah wrote:

Buku ini adalah salah satu buku non-fiksi yang sangat saya minati. Pandangan saya tentang sebuah negeri bernama Iran banyak berubah setelah membaca buku ini.

Dina Y. Sulaeman dan suaminya, Otong Sulaeman, menyajikan beragam kisah, peristiwa dan tempat-tempat yang luar biasa yang mereka lewati di Iran. Bagi saya, buku ini bukan sekedar buku tentang sebuah negeri, melainkan juga buku yang bernilai relijius.

Satu kisah yang ditulis Otong bahkan membuat saya menangis tersedu-sedu dan begitu haru, mengingat kembali indahnya rasa ikhlas, merasakan kembali nikmatnya cinta Ilahi. Kisah itu adalah kisah Mehdy, seorang supir taksi yang membawa Otong berkeliling di suatu kota di Iran — kisah inilah yang membuat saya memberi 5 bintang untuk buku ini.

Pemaparan tentang sistem pemilihan di Iran yang begitu simpel membuat saya sedih dengan sistem di sini. Andaikan warga Indonesia seperti itu juga, bersemangat dan jujur dalam memilih, tentunya tidak perlu repot-repot memesan kotak suara atau tinta khusus (yang nyatanya mudah hilang juga) sehingga menghabiskan uang rakyat.

Satu lagi yang membuat saya terkesan dengan Iran, yaitu gerbong kereta yang dipisahkan antara perempuan dan laki-laki — meski ada juga gerbong campuran untuk suami istri). Kapan ya, Indonesia bisa seperti itu?

Andai buku ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dunia barat dapat melihat Iran (dan/atau Islam) dengan cara berbeda…atau sudah?

Rini wrote:

Membaca buku ini pada saat-saat mencontreng yang sedang heboh memang tepat. Bagian paling menarik adalah penelusuran politik dan permainan media, khususnya Amerika, tentang pidato Ahmadinejad yang diterjemahkan ‘begitu saja’ sehingga ia menimbulkan kesan bahwa Islam itu anti damai dan Iran adalah ’sarang’ teroris. Padahal setelah ditelisik naskah aslinya, beliau tidak menghendaki Israel dihapuskan atau dibasmi, melainkan rezim Zionisnya saja yang kejam tak terkira.

Buku ini bukan sekadar panduan travelling atau memoar biasa, tetapi sangat mengayakan wawasan. Tidak benar, Iran tertutup. Tidak benar, Iran menindas wanita. Buktinya ada yang belajar kungfu dan menjadi polisi. Tidak benar pula seni diberangus total.

Sungguh, aku tidak menyesal membeli dan membaca buku ini. Kalaupun ada kekurangannya, adalah pada penyuntingan. Yang paling mengganggu adalah kalimat Ahmadinejad yang begini: be angry at us, dan die of this anger! Seandainya kejanggalan tersebut tidak terjadi, maka aku akan memberinya lima bintang secara bulat.

Dhini wrote:

buat siapa aja yang merasa iran sebagai negara yang “mengerikan” dan “kaku”, baca deh buku ini…

penulisnya udah 8 tahun tinggal di sana.. dan buku ini semacam catatan keseharian serta interaksinya dengan masyarakat iran.

sbg negara yg pernah jadi salah satu pusat peradaban kuno dunia.. dan sekaligus negara yang sering dapat embargo ekonomi dari Paman Sam, ternyata masih banyak sisa peninggalan kebudayaan Persia yang dapat ditemukan di sana…

bagus.. banget deh…!!!




About me

Otong Sulaeman, lahir di Majalengka pada 1971. Ia lulus Sastra Arab Universitas Padjdjaran tahun 1994. Selanjutnya, ia pernah mendalami Studi Ulumul Quran di Al Mustafa International University, Qom, dan sempat belajar di program pascasarjana Sastra Persia di Imam Khomeini International University, Qazvin (Iran). Namun gelar master justru didapatkannya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran tahun 2010 di bidang filologi. Saat ini dia sedang menempuh studi S3 Filologi di Unpad.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 13 pengikut lainnya